Dulu saya
mengagumimu lebih dari semua teman yang pernah saya kenal. Percaya bahwa no
body’s perfect except you. Juga seringnya khawatir pada satu nama saat nanti
kau memulai hidupmu di tempat yang serba putih itu. Ya hanya ada namamu.
Padahal seharusnya ada banyak nama yang harus diperhatikan jika hanya dengan
alasan karena saya peduli. Sejatinya buatmu akan ada banyak mata yang bahkan
dengan sukarela memandang atau sekedar melirik diam-diam dalam sepersekian detik.
Mungkin berlebihan tapi kenyataannya tidak. Seperti itu yang terjadi.
Ada banyak bintang
di langitmu. Ya benar sekali. Bahkan bukan hanya bintang tapi semua makhluk
antariksa ada di langitmu. Medan magnetmu terlalu kuat untuk membuat mereka
menjauh dan alhasil semuanya justru semakin mendekat.
Satu-satunya hal
yang membuat saya tetap bertahan dengan tidak mengalihkan pandangan darimu
adalah kebodohan yang tidak punya landasan teori. Sedikit merasa baik ketika
hanya sekedar melihatmu dari sekian kilometer tanpa harus berucap atau
keterpaksaan menyapa. Itu saja sudah cukup. Bodoh sekali memang, tapi saya bisa
apa? Terlalu berani jika saya harus mendekat sekian meter menujumu, jadilah saya
kubur dalam-dalam (saja).
Ketika menulis
ini saya masih bingung, kenapa sulit sekali mengalihkan pandangan darimu. Apa
karena tubuhmu yang tinggi menjulang hingga menutupi bayangan orang lain yang
akan masuk dalam lensa mataku, atau karena saya sendiri yang justru sengaja
menutup lensa mata untuk menghindari bayangan lain yang akan masuk dan
menggantikan posisimu. Ah tidak mungkin. Tidak mungkin salah maksudnya, hahaha.
Banyak cinta
yang datang mendekat, tapi ku menolak.
Itulah kalimat yang nyesek sekali di dengar lewat telinga
hadiah dari temen-temen ketika mereka tahu tentangmu dan peran secret admirer lakonku. Oh iya, beberapa
tahun terakhir saya menyukai beberapa hal yang dekat sekali dengan
lingkunganmu. Jika boleh bertanya, apakah itu karenamu atau memang karena asli
kesukaan yang tiba-tiba. Semoga bukan karenamu, karena selama ini saya selalu
tertarik dengan banyak hal disekitarmu, sampai-sampai saya bingung kemana harus
melangkah selanjutnya jika secara tiba-tiba pula bayanganmu menghilang dan
tidak bisa lagi saya tangkap melalui lensa mata. Ah, kamu. Lebih rumit dibanding
jalur biosintesis metabolit sekunder dalam tubuh.
Ketika seseorang sedang sakit, apa yang menurutmu paling dia
butuhkan? Obat? Atau dokter? Kamu, dengan pemikiran yang dulu saya kenal pasti
akan dengan mudah menjawab “keduanya”. Tapi sayangnya kali ini jawaban itu
salah. Karena bagi dia, bersama seseorang
yang penting saat kita sakit lebih baik dibanding bersama dengan dokter.
Dan selama ini jika masa sakit bergilir padaku, meski tak ada tapi cukup dengan
melihat phone numbermu di layar hape.
Sebentar lagi saya sarjana, dan kau sudah lebih dulu
menyandang peran itu. Dan haruskah saat saya kembali nanti, saya masih saja akan
menyimpan ini seperti dulu saat saya pergi. Akan sangat berat nantinya. Kembali
pada kehidupan yang sebenarnya akan memberikan peluang yang sungguh besar jika
nanti kita dipertemukan. Karena tidak ada batasan di luar sana, Tuhan bisa saja
membuat semuanya lebih mudah tapi sayangnya jika rasa itu masih kuat hingga
detik ini maka akan sangat menyakitkan jika menyaksikan episode barumu yang
akan segera dirilis dengan saya tidak ada di dalamnya.
Oh, haruskah saya berhenti?
Jika harus menutup episode maka tidak akan dengan cara
melupakanmu atau dengan mudah menggantikan sosokmu dengan yang lain. Tidak
bisa. Jika harus menyerah, maka akan saya lakukan. Bukan karena saya tidak
berusaha, karena bicara tentang rasa tidak akan berpengaruh dengan usaha macam
kuli bangunan yang mengangkat sekian ton dengan imbalan yang mengucur keringat.
Tidak bisa, bukan usaha itu jika urusannya tentang rasa. Bukan pula dengan
menambah penyedap rasa ayam atau sapi lalu dengan cepat berubah menjadi sangat
sedap. Bukan seperti itu, rasa disini bukan rasa sop ayam atau kaldu. Rasa
disini tentang bahagia yang mengahasilkan senyum meski sederhana mengingat yang
dulu yang pernah terjadi. Rasa disini tentang kesyukuran mengagumi makhlukNya,
rasa disini tentangmu, tentangmu yang baik. Tapi rasa disini tidak pernah
bertangkup, seperti ketika tanganmu berjabat. Tidak pernah.
Jadi, meski sedikit takut mengakui tapi sadar diri saya
ikrarkan Tuhan bahwa saya menyerah. Saya berhenti.
Jika bukan karena ada perasaan yang sama maka biarkan
mengalir menuju muaranya masing-masing. Dulu yang terjadi bukan kesalahan,
sesakit apapun karena tidak ada masa lalu yang salah justru keberkahan yang
patut disyukuri. Jikapun Tuhan membuka telinganya hari ini, maafkan jika belum
sepenuhnya saya berhenti, belum sepenuhnya juga saya menyerah. Hadirkan yang
sepertinya, yang menjadikanku lebih baik, yang dekat denganMu, yang memilihku
denga hati yang cerdas atasMu, yang sama-sama bangga memiliki dengan ketulusan
yang tidak bisa digadaikan.
Saya percaya, bahwa cinta tidak pernah datang terlambat,
karena dia datang pada waktu yang tepat. Karena cinta akan sendirinya
menentukan siapa pemiliknya.
Oh, Tuhan peluk saya yang masih mudah menangis. Dan saya
tutup tulisan pagi ini dengan kelegaan meski dengan pipi basah. Ijinkan rasa
ikhlas itu menyelimuti hati yang kecil ini dengan kesederhanaan yang terus
menjunjungMu. Dan Kau pasti selalu terjaga maka mudahkan kakiku melangkah saat
ini, besok, dan seterusnya. Aku menyayangiMu, Tuhan.
Keep his heart
pure and good. Stay on Your way and give he the best. I just wanna see him
happy all the time..(see you) :’)
Special for you
-dengan banyak perubahan-