Minggu, 23 Maret 2014

Cinta (tidak) Datang Terlambat



Dulu saya mengagumimu lebih dari semua teman yang pernah saya kenal. Percaya bahwa no body’s perfect except you. Juga seringnya khawatir pada satu nama saat nanti kau memulai hidupmu di tempat yang serba putih itu. Ya hanya ada namamu. Padahal seharusnya ada banyak nama yang harus diperhatikan jika hanya dengan alasan karena saya peduli. Sejatinya buatmu akan ada banyak mata yang bahkan dengan sukarela memandang atau sekedar melirik diam-diam dalam sepersekian detik. Mungkin berlebihan tapi kenyataannya tidak. Seperti itu yang terjadi.

Ada banyak bintang di langitmu. Ya benar sekali. Bahkan bukan hanya bintang tapi semua makhluk antariksa ada di langitmu. Medan magnetmu terlalu kuat untuk membuat mereka menjauh dan alhasil semuanya justru semakin mendekat. 

Satu-satunya hal yang membuat saya tetap bertahan dengan tidak mengalihkan pandangan darimu adalah kebodohan yang tidak punya landasan teori. Sedikit merasa baik ketika hanya sekedar melihatmu dari sekian kilometer tanpa harus berucap atau keterpaksaan menyapa. Itu saja sudah cukup. Bodoh sekali memang, tapi saya bisa apa? Terlalu berani jika saya harus mendekat sekian meter menujumu, jadilah saya kubur dalam-dalam (saja). 

Ketika menulis ini saya masih bingung, kenapa sulit sekali mengalihkan pandangan darimu. Apa karena tubuhmu yang tinggi menjulang hingga menutupi bayangan orang lain yang akan masuk dalam lensa mataku, atau karena saya sendiri yang justru sengaja menutup lensa mata untuk menghindari bayangan lain yang akan masuk dan menggantikan posisimu. Ah tidak mungkin. Tidak mungkin salah maksudnya, hahaha. 

Banyak cinta yang datang mendekat, tapi ku menolak.

Itulah kalimat yang nyesek sekali di dengar lewat telinga hadiah dari temen-temen ketika mereka tahu tentangmu dan peran secret admirer lakonku. Oh iya, beberapa tahun terakhir saya menyukai beberapa hal yang dekat sekali dengan lingkunganmu. Jika boleh bertanya, apakah itu karenamu atau memang karena asli kesukaan yang tiba-tiba. Semoga bukan karenamu, karena selama ini saya selalu tertarik dengan banyak hal disekitarmu, sampai-sampai saya bingung kemana harus melangkah selanjutnya jika secara tiba-tiba pula bayanganmu menghilang dan tidak bisa lagi saya tangkap melalui lensa mata. Ah, kamu. Lebih rumit dibanding jalur biosintesis metabolit sekunder dalam tubuh.

Ketika seseorang sedang sakit, apa yang menurutmu paling dia butuhkan? Obat? Atau dokter? Kamu, dengan pemikiran yang dulu saya kenal pasti akan dengan mudah menjawab “keduanya”. Tapi sayangnya kali ini jawaban itu salah. Karena bagi dia, bersama seseorang yang penting saat kita sakit lebih baik dibanding bersama dengan dokter. Dan selama ini jika masa sakit bergilir padaku, meski tak ada tapi cukup dengan melihat phone numbermu di layar hape.

Sebentar lagi saya sarjana, dan kau sudah lebih dulu menyandang peran itu. Dan haruskah saat saya kembali nanti, saya masih saja akan menyimpan ini seperti dulu saat saya pergi. Akan sangat berat nantinya. Kembali pada kehidupan yang sebenarnya akan memberikan peluang yang sungguh besar jika nanti kita dipertemukan. Karena tidak ada batasan di luar sana, Tuhan bisa saja membuat semuanya lebih mudah tapi sayangnya jika rasa itu masih kuat hingga detik ini maka akan sangat menyakitkan jika menyaksikan episode barumu yang akan segera dirilis dengan saya tidak ada di dalamnya. 

Oh, haruskah saya berhenti?

Jika harus menutup episode maka tidak akan dengan cara melupakanmu atau dengan mudah menggantikan sosokmu dengan yang lain. Tidak bisa. Jika harus menyerah, maka akan saya lakukan. Bukan karena saya tidak berusaha, karena bicara tentang rasa tidak akan berpengaruh dengan usaha macam kuli bangunan yang mengangkat sekian ton dengan imbalan yang mengucur keringat. Tidak bisa, bukan usaha itu jika urusannya tentang rasa. Bukan pula dengan menambah penyedap rasa ayam atau sapi lalu dengan cepat berubah menjadi sangat sedap. Bukan seperti itu, rasa disini bukan rasa sop ayam atau kaldu. Rasa disini tentang bahagia yang mengahasilkan senyum meski sederhana mengingat yang dulu yang pernah terjadi. Rasa disini tentang kesyukuran mengagumi makhlukNya, rasa disini tentangmu, tentangmu yang baik. Tapi rasa disini tidak pernah bertangkup, seperti ketika tanganmu berjabat. Tidak pernah.

Jadi, meski sedikit takut mengakui tapi sadar diri saya ikrarkan Tuhan bahwa saya menyerah. Saya berhenti.

Jika bukan karena ada perasaan yang sama maka biarkan mengalir menuju muaranya masing-masing. Dulu yang terjadi bukan kesalahan, sesakit apapun karena tidak ada masa lalu yang salah justru keberkahan yang patut disyukuri. Jikapun Tuhan membuka telinganya hari ini, maafkan jika belum sepenuhnya saya berhenti, belum sepenuhnya juga saya menyerah. Hadirkan yang sepertinya, yang menjadikanku lebih baik, yang dekat denganMu, yang memilihku denga hati yang cerdas atasMu, yang sama-sama bangga memiliki dengan ketulusan yang tidak bisa digadaikan.

Saya percaya, bahwa cinta tidak pernah datang terlambat, karena dia datang pada waktu yang tepat. Karena cinta akan sendirinya menentukan siapa pemiliknya.

Oh, Tuhan peluk saya yang masih mudah menangis. Dan saya tutup tulisan pagi ini dengan kelegaan meski dengan pipi basah. Ijinkan rasa ikhlas itu menyelimuti hati yang kecil ini dengan kesederhanaan yang terus menjunjungMu. Dan Kau pasti selalu terjaga maka mudahkan kakiku melangkah saat ini, besok, dan seterusnya. Aku menyayangiMu, Tuhan.

Keep his heart pure and good. Stay on Your way and give he the best. I just wanna see him happy all the time..(see you) :’)

Special for you
-dengan banyak perubahan-

Jika mencintaimu adalah kesalahan..



Jika mencintaimu adalah kesalahan, aku ucapkan maaf untuk itu..
Jika mengagumimu adalah salah, katakanlah. Jangan diam saja.

Kau tahu aku sakit ketika kau berpaling muka dariku,
Kau tahu aku sakit saat kau sama sekali tidak menganggap ku ada.
Kau tahu itu? Sejak lama bukan? Tapi kenapa kau lakukan?

Aku mencoba memendam rasa ini sejak lama. Erat erat.
Bahkan saat aku harus salah paham akan semua ini, aku tetap menutupnya.
Bahkan ketika harus lari dari kenyataan, aku tetap teguh.
Namun apa gunanya jika kau mengetahuinya lebih dulu?

Lalu kini aku tahu. Aku harus bagaimana? Terangkan pada ku?
Bukannya kau tahu sebelum aku memberitahumu?

Jika mencintaimu adalah kesalahan, aku ucapkan maaf untuk itu..
Jika mengagumimu adalah salah, katakanlah. Jangan diam saja.

Jika mencintaimu adalah alasan kau menjauhiku,
Jika menyukaimu adalah alasan mu berubah,
Jika rasa ini telah mengikis pendirian mu,
Harusnya kau katakan? Untuk apa kau sembunyikan? Jika kau telah tau sebelumnya?
Untuk apa kau buatku menunggu mu? Jika kau saja ingin menjauhiku?

Harusnya kau mengatakannya,,
Kecewa memang. Jika kau memberitahu ku apa yang kau tahu.
Tapi lebih kecewa jika aku harus menunggu mu. Entah sampai kapan itu.

Maaf jika mencintaimu adalah hal yang kau hindari sejak dulu.